HUBUNGAN MANUSIA DENGAN KEBUDAYAAN
MATA KULIAH ILMU BUDAYA DASAR
OLEH :
TRIANA DIVANI PUTRI 17518137
FAKULTAS PSIKOLOGI
UNIVERSITAS GUNADARMA
DEPOK
2018
KATA PENGANTAR
Puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa atas segala rahmat-Nya sehingga makalah yang berjudul "Hubungan Antara Manusia dengan Kebudayaan" ini dapat tersusun hingga selesai. Tidak lupa penulis juga mengucapkan banyak terimakasih atas bantuan dari pihak yang telah berkontribusi dengan memberikan sumbangan baik materi maupun pemikirannya.
Dan harapan penulis semoga makalah ini dapat menambah pengetahuan dan pengalaman bagi para pembaca. Untuk kedepannya dapat memperbaiki bentuk maupun menambah isi makalah agar menjadi lebih baik lagi.
Karena keterbatasan pengetahuan maupun pengalaman penulis, penulis yakin masih banyak kekurangan dalam makalah ini. Oleh karena itu penulis sangat mengharapkan saran dan kritik yang membangun dari pembaca demi kesempuranaan makalah ini.
Depok,6 Oktober 2018
Penulis
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Indonesia terkenal dengan keragaman budayanya.Manusia dan kebudayaan adalah satu hal yang tidak bisa di
pisahkan karena dimana manusia itu hidup dan menetap pasti manusia akan hidup
sesuai dengan kebudayaan yang ada di daerah yang di tinggalinya.Manusia merupakan makhluk sosial yang berinteraksi satu sama
lain dan melakukan suatu kebiasaan-kebiasaan yang terus mereka kembangankan dan
kebiasaan-kebiasaan tersebut akan menjadi kebudayaan.
Setiap manusia juga memiliki kebudayaan yang berbeda-beda,
itu disebabkan mereka memiliki pergaulan sendiri di wilayahnya sehingga manusia
di manapun memiliki kebudayaan yang berbeda masing-masing. Perbedaan kebudayaan
disebabkan karna perbedaan yang dimiliki seperti faktor Lingkungan, faktor
alam, manusia itu sendiri dan berbagai faktor lainnya yang menimbulkan
Keberagaman budaya tersebut Seiring dengan berkembangnya teknlogi informasi dan
komunikasi yang masuk ke Indonesia diharapkan dapat dapat memberikan pengaruh
yang positif terhadap kebudayaan masing-masing daerah, karena kebudayaan merupakan
jembatan yang menghubungkan dengan manusia yang lain.
B. Rumusan Masalah
1. Apakah pengertian dari Manusia dan Kebudayaan?
2. Apa fungsi budaya bagi manusia?
3. Bagaimana kedudukan manusia terhadap Kebudayaan?
4. Bagaimana hubungan manusia dan Kebudayaan?
5. Bagaimanakah manusia sebagai pencipta dan pengguna Kebudayaan?
C. Tujuan Penulisan
Adapun tujuan makalah ini dibuat adalah sebagai berikut :
1. Dapat memahami pengertian manusia dan kebudayaan
2. Dapat memahami fungsi budaya dalam kehidupan kita
3. Dapat memahami dan menjelaskan hubungan manusia dengan kebudayaan
BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Manusia dan Kebudayaan
Secara bahasa, manusia berasal dari kata “manu”
(Sansekerta), “mens” (Latin), yang berarti berfikir, berakal budi atau makhluk
yang berakal budi (mampu menguasai makhluk lain). Sedangkan secara umum
pengertian kebudayaan merupakan jalan atau arah didalam bertindak dan berfikir
untuk memenuhi kebutuhan hidup baik jasmani maupun rohani. Berikut ini adalah
pengertian dan definisi manusia menurut beberapa ahli:
- Nicolaus D. dan A. Sudiarja
Manusia adalah bhineka, tetapi tunggal. Bhineka karena ia
adalah jasmani dan rohani akan tetapi tunggal karena jasmani dan rohani
merupakan suatu barang.
- Abineno J. I
Manusia adalah "Tubuh yang berjiwa" dan bukan "Jiwa abadi yang berada atau yang terbungkus dalam tubuh yang fana".
- Upanisads
Manusia adalah kombinasi dari unsur-unsur roh (atman), jiwa, pikiran, dan prana atau badan fisik.
- Sokrates
Manusia adalah bentuk makhluk hidup berkaki dua yang tidak berbulu dengan kuku datar dan lebar.
- Kees Bertens
Manusia adalah suatu makhluk yang terdiri dari 2 unsur yang kesatuannya tidak dinyatakan.
- I Wayan Watra
Manusia adalah makhluk yang dinamis dengan trias dinamikanya, yaitu cipta, rasa dan karsa.
- Omar Mohammad Al-Toumy Al-Syaibany
Manusia adalah makhluk yang paling mulia, manusia adalah makhluk yang berfikir, dan manusia adalah makhluk yang memiliki 3 dimensi(badan, akal, dan ruh), manusia dalam pertumbuhannya dipengaruhi faktr keturunan dan lingkungan.
- Erbe Sentanu
Manusia adalah makhluk sebaik-baiknya ciptaan-Nya. Bahkan bisa dibilang manusia adalah ciptaan Tuhan yang paling sempurna dibandingkan dengan makhluk yang lain.
- Paula J. C dan Janet W. K
Manusia adalah mahluk terbuka, bebas memilih makna dalam
situasi, mengemban tanggung jawab atas keputusan yang hidup secara kontinu
serta turut menyusun pola berhubungan dan unggul multidimensi dengan berbagai
kemungkinan.
Manusia dan kebudayaan pada hakekatnya memiliki hubungan
yang sangat erat, dan hampir semua tindakan dari seorang manusia itu adalah
merupakan kebudayaan.
Manusia dan keindahan atau seni memang tidak bisa dipisahkan
sehingga diperlukan pelestarian bentuk keindahan yang dituangkan dalam berbagai
bentuk kesenian (seni rupa, seni suara maupun seni pertunjukan) yang nantinya
menjadi bagian dari kebudayaannya yang dapat dibanggakan. Sebuah kebudayaan
besar biasanya memiliki sub-kebudayaan (atau biasa disebut sub-kultur), yaitu
sebuah kebudayaan yang memiliki sedikit perbedaan dalam hal perilaku dan kepercayaan
dari kebudayaan induknya. Munculnya sub-kultur disebabkan oleh beberapa hal,
diantaranya karena perbedaan umur, ras, etnisitas, kelas, aesthetik, agama, pekerjaan,
pandangan politik dan gender.
Kata kebudayaan berasal dari kata budh> budhi>budhaya
dalam bahasa sansekerta yang berarti akal, sehingga kebudayaan diartikan
sebagai hasil pemikiran atau akal manusia. Ada pendapat yang mengatakan bahwa
kebudayaan yang berasal dari kata budi dan daya. Budi adalah akal yang
merupakan unsure rohani dalam kebudayaan, sedangkan daya berarti perbuatan atau
ikhtiar sebagai unsure jasmani, sehingga kebudayaan diartikan sebagai hasil
dari akal dan ikhtiar manusia (supartono, 2001; Prasetya, 1998).
Kebudayaan selalu dimiliki oleh setiap masyarakat, hanya
saja ada suatu masyarakat yang lebih baik perkembangan kebudayaannya dari pada
masyarakat lainnya untuk memenuhi segala kebutuhan masyarakatnya. Pengertian
kebudayaan banyak sekali dikemukakan oleh para ahli. Salah satunya dikemukakan
oleh Selo Soemardjan dan Soelaiman Soemardi yang merumuskan bahwa kebudayaan
adalah semua hasil dari karya, rasa dan cipta masyarakat. Karya
masyarakat menghasilkan teknologi dan kebudayaan kebendaan, yang diperlukan
manusia untuk menguasa alam sekitarnya, agar kekuatan serta hasilnya dapat
diabdikan untuk kepentingan masyarakat.
Rasa yang meliputi jiwa manusia mewujudkan segala norma dan
nilai masyarakat yang perlu mengatur masalah-masalah kemasyarakatan dalam arti
luas. Didalamnya termasuk, agama, ideologi, kebatinan, kenesenian dan semua
unsur yang merupakan hasil ekspresi dari jiwa manusia. Selanjutnya cipta
merupakan kemampuan mental, kemampuan pikir dari orang yang hidup bermasyarakat
dan yang menghasilkan filsafat serta ilmu pengetahuan. Rasa dan cipta dinamakan
kebudayaan rohaniah. Semua karya, rasa dan cipta dikuasai oleh karsa dari orang-orang
yang menentukan kegunaannya, agar sesuai dengan kepentingan sebagian besar,
bahkan seluruh masyarakat.
Dari definisi-definisi kebudayaan dapat dinyatakan bahwa inti
pengertian kebudayaan mengandung beberapa ciri pokok, yaitu sebagai berikut :
- Kebudayaan itu beraneka ragam.
- Kebudayaan itu diteruskan melalui proses belajar.
- Kebudayaan itu terjabarkan dari komponen biologi, psikologi, sosiologi, dan eksistensi manusia. Kebudayaan itu berstruktur. Kebudayaan itu terbagi dalam aspek-aspek.
- Kebudayaan itu dinamis.
- Nilai-nilai dalam kebudayaan itu relatif.
Dari pengertian tersebut menunjukkan bahwa kebudayaan itu
merupakan keseluruhan arti pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial yang digunakan
untuk menginterpretasikan dan memahami lingkungan yang dihadapiu untuk memenuhi
segala kebutuhannya serta mendorong terwujudnya kelakuan manusia itu sendiri.
2.2 Fungsi Budaya
Kebudayaan mempunyai fungsi yang sangat besar bagi manusia dan masyarakat.
Masyarakat memiliki kebutuhan-kebutuhan yang harus dipenuhi dalam menjalani
kehidupannya. Kebutuhan- kebutuhan masyarakat tersebut sebagian besar dipenuhi
oleh kebudayaan yang bersumber pada masyarakat itu sendiri. Karena kemampuan
manusia terbatas sehingga kemampuan kebudayaan yang merupakan hasil ciptaannya
juga terbatas di dalam memenuhi segala kebutuhan.
Karsa masyarakat
mewujudkan norma dan nilai- nilai sosial yang sangat perlu untuk mengadakan
tata tertib dalam pergaulan kemasyarakatan. Karsa merupakan daya upaya manusia
untuk melindungi diri terhadap kekuatan-kekuatan lain yang ada di dalam
masyarakat. Untuk menghadapi kekuatan- kekuatan yang buruk, manusia terpaksa
melindungi diri dengan cara menciptakan kaidah-kaidah yang pada hakikatnya
merupakan petunjuk-petunjuk tentang bagaimana manusia harus bertindak dan
berlaku di dalam pergaulan hidup.
Fungsi kebudayaan adalah untuk mengatur manusia agar dapat mengerti
bagaimana seharusnya bertindak dan berbuat untuk menentukan sikap kalau akan
berhubungan dengan orang lain didalam menjalankan hidupnya.
kebudayaan
berfungsi sebagai:
- Suatu hubungan pedoman antar manusia atau kelompok.
- Wadah untuk menyakurkan perasaan-perasaan dan kehidupan lainnya.
- Pembimbing kehidupan manusia.
- Pembeda antar manusia dan binatang.
Kebudayaan mengatur supaya manusia dapat mengerti bagaimana seharusnya
bertindak, berbuat menentukan sikapnya kalau mereka berhubungan dengan orang
lain. Setiap orang bagaimanapun hidupnya, akan selalu menciptakan kebiasaan
bagi dirinya sendiri. Kebiasaan (habit) merupakan suatu perilaku pribadi yang
berarti kebiasaan orang seorang itu berbeda dari kebiasaan orang lain, walaupun
mereka hidup dalam satu rumah. Kebiasaan menunjuk pada suatu gejala bahwa
seseorang di dalam tindakan-tindakannya selalu ingin melakukan hal-hal
yang teratur baginya.
2.3 Kedudukan Manusia terhadap Kebudayaan
Manusia mempunyai 4 kedudukan terhadap kebudayaan yaitu :
- Penganut kebudayaan
- Pembawa kebudayaan
- Manipulator kebudayaan
- Pencipta kebudayaan
Disamping itu, kebudayaan manusia itu menciptakan suatu keindahan
yang biasa kita sebut dengan suatu seni. Keindahan/seni dibutuhkan oleh setiap
manusia agar kehidupan yang dijalaninya menjadi indah. Manusia dan keindahan/seni
memang tak bisa dipisahkan sehingga diperlukan pelestarian bentuk keindahan
yang dituangkan dalam berbagai bentuk kesenian (seni rupa, seni suara maupun
seni pertunjukan) yang nantinya manjadi bagian dari kebudayaannya yang dapat
dibanggakan dan mudah-mudahan terlepas dari unsur politik.
Sebuah kebudayaan besar biasanya memiliki sub-kebudayaan (atau
biasa disebut sub-kultur), yaitu sebuah kebudayaan yang memiliki sedikit perbedaan
dalam hal perilaku dan kepercayaan dari kebudayaan induknya. Munculnya
sub-kultur disebabkan oleh beberapa hal, diantaranya karena perbedaan umur,
ras, etnisitas, kelas, aesthetik, agama, pekerjaan, pandangan politik dan gender.
2.4 Hubungan Manusia dengan Kebudayaan
Secara sederhana hubungan antara manusia dan kebudayaan
adalah : manusia sebagai perilaku kebudayaan, dan kebudayaan merupakan obyek
yang dilaksanakan manusia. Tetapi apakah sesederhana itu hubungan keduanya ?
Sosiologi manusia dan kebudayaan dinilai sebagai
dwitunggal, maksudnya bahwa walaupun keduanya berbeda tetapi keduanya merupakan
satu kesatuan. Manusia menciptakan kebudayaan, clan setelah kebudayaan itu
tercipta maka kebudayaan mengatur hidup manusia agar sesuai dengannya. Tampak
baliwa keduanya akhimya merupakan satu kesatuan. Contoh sederhana yang dapat
kita lihat adalah hubungan antara manusia dengan peraturan-peraturan kemasyarakatan.
Pada saat awalnya peraturan itu dibuat oleh manusia, setelah
peraturan itu jadi maka manusia yang membuatnya hams patuh kepada peraturan
yang dibuatnya sendiri itu. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa manusia
tidak dapat dilepaskan dari kebudayaan, karena kebudayaan itu merupakan perwujudan
dari manusia itu sendiri. Apa yang tercakup dalam satu kebudayaan tidak akan
jauh menyimpang dari kemauan manusia yang membuatnya Dari sisi lain, hubungan
antara manusia dan kebudayaan ini dapat dipandang setara dengan hubungan antara
manusia dengan masyarakat dinyatakan sebagai dialektis, maksudnya saling
terkait satu sama lain. Proses dialektis ini tercipta melalui tiga tahap yaitu:
Eksternalisasi
yaitu proses dimana manusia mengekspresikan dirinya dengan
membangun dunianya. Melalui ekstemalisasi ini masyarakat menjadi kenyataan
buatan manusia.
Obyektivasi
yaitu proses dimana masyarakat menjadi realitas obyektif,
yaitu suatu kenyataan yang terpisah dari manusia dan berhadapan dengan manusia.
Dengan demikian masyarakat dengan segala pranata sosialnya akan mempengaruhi
bahkan membentuk perilaku manusia.
Internalisasi
yaitu proses dimana masyarakat disergap kembali oleh
manusia. Maksudnya bahwa manusia mempelajari kembali masyarakamya sendiri agar
dia dapat hidup dengan .baik, sehingga manusia menjadi kenyataan yang dibentuk
oleh masyarakat.
2.5 Manusia sebagai Pencipta dan Pengguna Kebudayaan
Budaya tercipta atau terwujud merupakan hasil dari interaksi
antara manusia dengan segala isi yang ada di bumi ini. Manusia diciptakan oleh
Tuhan dengan dibekali oleh akal pikiran sehingga mampu untuk berkarya di muka
bumi ini dan secara hakikatnya menjadi khalifah di muka bumi ini. Disamping itu
manusia juga memiliki akal, intelegensia, intuisi, perasaan, emosi, kemauan,
fantasi dan perilaku.
Dengan semua kemampuan yang dimiliki oleh manusia maka
manusia bisa menciptakan kebudayaan. Ada hubungan dialektika antara manusia dan
kebudayaan. Kebudayaan adalah produk manusia, namun manusia itu sendiri adalah
produk kebudayaan. Dengan kata lain, kebudayaan ada karena manusia yang
menciptakannya dan manusia dapat hidup ditengah kebudayaan yang diciptakannya.
Kebudayaan akan terus hidup manakala ada manusia sebagai pendudukungnya.
Kebudayaan mempunyai kegunaan yang sangat besar bagi
manusia. Hasil karya manusia menimbulkan teknologi yang mempunyai kegunaan
utama dalam melindungi manusia terhadap lingkungan alamnya. Sehingga kebudayaan
memiliki peran sebagai:
- Suatu hubungan pedoman antarmanusia atau kelompoknya.
- Wadah untuk menyalurkan perasaan-perasaan dan kemampuan-kemampuan lain.
- Sebagai pembimbing kehidupan dan penghidupan manusia.
- Pembeda manusia dan binatang.
- Petunjuk-petunjuk tentang bagaimana manusia harus bertindak dan berprilaku didalam pergaulan.
- Pengatur agar manusia dapat mengerti bagaimana seharusnya bertindak, berbuat, dan menentukan sikapnya jika berhubungan dengan orang lain.
- Sebagai modal dasar pembangunan.
BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Secara sederhana hubungan manusia dan kebudayaan adalah
sebagai perilaku kebudayaan dan kebudayaan merupakan obyek yang dilaksanakan
manusia. Dalam ilmu sosiologi manusia dan kebudayaan dinilai sebagai dwi
tunggal yang berarti walaupun keduanya berbeda tetapi keduanya merupakan satu
kesatuan. Manusia menciptakan kebudayaan setelah kebudayaan tercipta maka
kebudayaan mengatur kehidupan manusia yang sesuai dengannya.
Manusia hidup karena adanya kebudayaan, sementara itu kebudayaan
akan terus hidup dan berkembang manakala manusia mau melestarikan kebudayaan
dan bukan merusaknya. Dengan demikian manusia dan kebudayaan tidak dapat
dipisahkan satu sama lain, karena dalam kehidupannya tidak mungkin tidak berurusan
dengan hasil-hasil kebudayaan, setiap hari manusia melihat dan menggunakan
kebudayaan, bahkan kadang kala disadari manusia itu sendiri yang merusak
kebudayaan.
Maka dari itu, sebagai manusia yang berbudaya kita harusnya
mampu untuk terus dan tetap berbudaya sebagaimana hakikat kita sebagai manusia.
3.2 Saran
Manusia sebagai pelaku kebudayaan dan sekaligus pencipta kebudayaan
seharusnya mampu mengenali dan melestarikan kebudayaan itu sendiri. Karena adanya
manusia tak terlepas dengan dengan adanya kebudayaan, artinya manusia itu
sangat berkaitan dengan kebudayaan itu. Jadi kita sebagai manusia hendaknya dapat
mengenali dan kemudian melestarikan kebudayaan itu.
DAFTAR PUSTAKA
http://nudistaku.blogspot.com/2013/10/makalah-hubungan-manusia-dan-kebudayaan_6.html
http://siddiq.manusiadankebudayaan.blogspot.com/
https://pengertiandefinisi.com/pengertian-manusia-menurut-para-ahli/
https://www.google.co.id/search?q=logo+gunadarma+png&safe=strict&source=lnms&tbm=isch&sa=X&ved=0ahUKEwjWzN7wlvPdAhUPaI8KHeKEBLEQ_AUIDigB#imgrc=eE_neBTA_Ep2vM:
https://www.zonareferensi.com/pengertian-kebudayaan/


Posting Komentar